Mengatasi Kegamangan Ketika Berpindah Tempat Kerja

10 Jul 2009

Pindah pekerjaan merupakan hal yang kerap menyenangkan: suasan baru, gairah baru. Tapi, tak jarang, hal itu menimbulkan kegamangan. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Ketika seseorang berpindah dari satu tempat kerja ke tempat lain ia akan mengalami masa sulit yang sering disebut sebagai masa transisi. Masa itu kerap pula disebut masa adaptasi. Banyak hal baru ditemukan yang berbeda dengan kondisi sebelumnya. Bagaimana pun, kondisi yang berbeda itu harus dihadapi dan tak mungkin dihindari. Kemampuan seseorang melewati masa transisi tergantung pada beberapa hal, antara lain kematangan usia.

Kematangan usia terkait erat dengan pengalaman yang dimiliki sebelumnya. ”Istilahnya sudah makan garam-asam pekerjaan,” kata Mira Tripuspita, konsultan dari Experd, lembaga konsultasi pengembangan sumberdaya manusia yang berbasis di Jakarta. Kematangan usia biasanya datang pada usia minimal 35 tahun. Pada usia ini masa transisi akan dilewati tanpa banyak kesulitan karena faktor pengalaman yang dimiliki ikut mendukung.

Apa yang dicari oleh seseorang yang telah mencapai usia 35 tahun dengan berpindah kerja bukan lagi materi. Mereka lebih menginginkan tantangan atau mencari self esteem. Dengan segala kematangan dan kemampuan, mereka lebih menjual ketika datang tawaran dari tempat baru. Kemampuan yang dimiliki tadi biasanya sangat membantu ketika melakukan proses adaptasi.

Modal terbaik yang dimiliki kelompok ini adalah jaringan luas yang sudah dibangun sebelumnya, sehingga temat kerja baru bukan lagi halangan. Tak ada yang perlu dirisaukan kecuali jika pekerjaan yang diterimanya berbeda sama sekali dengan pekerjaan sebelumnya. ”Kalau itu yang dipilih, maka faktor usia tidak lagi relevan untuk melewati masa transisi dengan baik,” kata Mira.

Bagi mereka yang belum mencapai usia tadi, biasanya proses adaptasi untuk melewati masa transisi banyak menemui halangan. Faktornya bisa berasal dari dalam diri sendiri, seperti keinginan menjadi seorang generalis yang digunakan untuk mengukur kompetensi diri dengan apa yang dimiliki. ”Mereka baru mengandalkan personalitas untuk lebih mudah diakui oleh lingkungan barunya,” ujar Mira.

Selain itu, mereka yang belum mencapai usia matang kurang bisa mengambil hati bagaimana seharusnya bersikap di tengah lingkungan baru. Karena itu Eugene Raudsepp, Presiden Princeton University’s Creative Research Centre, menggariskan perlunya sikap fleksibel untuk melewati masa transisi. ”Tanpa itu, hanya kesulitan dan keberatan yang akan didapat,” katanya.

Masa transisi ketika seseorang berpindah tempat kerja adalah hal wajar. ”Ada kesempatan lebih baik yang mungkin bisa didapat,” kata Raudsepp. Sukses-tidaknya melewati masa transisi memang ditentukan dari dua faktor, yakni diri sendiri dan faktor luar.

Persoalan diri sendiri bisa jadi kembali pada kematangan usia, seperti diungkapkan oleh Mira Tripuspita tadi. Tapi, tak sedikit pula yang melihat faktor kesalahan strategi yang dipakai saat memutuskan berpindah tempat kerja. ”Padahal langkah awal di saat transisi itu adalah menentukan langkah selanjutnya,” ucap Raudsepp. Menurut Raudsepp, tidak sedikit kegagalan di masa transisi berimbas buruk pada karier selanjutnya. Alangkah baiknya, saran Raudsepp, jika pengalaman dijadikan rujukan.

Selain kemampuan bekerja, yang perlu diperhatikan adalah kemampuan menjalin komunikasi dengan orang lain. Apalagi jika harus bekerja dalam sebuah team work di mana ide tak mungkin datang dari satu kepala. Cobalah mendengarkan lebih dahulu apa yang menjadi pikiran rekan kerja sebelum anda sendiri diminta untuk memberikan ide baru. ”Jika anda bisa melewati masa awal ini, selanjutnya akan mudah,” ucap Raudsepp.

Untuk itu seseorang perlu mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri sebelum memasuki masa transisi tadi. “Menjawab pertanyaan diri sendiri secara jujur akan membantu kita menembus perbedaan dengan lingkungan baru,” timpal Mira Tripuspita. Paling tidak, seseorang tidak terlampau menonjolkan diri di lingkungan baru yang bisa menyebabkan ia kurang diterima oleh rekan kerjanya.

Raudsepp mencoba memberikan panduan menarik tentang pertanyaan pada diri sendiri itu. Ia mencontohkan apakah saya seorang temperamental ketika menghadapi sesuatu? Atau, apa yang paling mampu saya kerjakan di tempat baru ini? Apa yang belum pernah saya kerjakan? Pertanyaan pertama terkait dengan rasa percaya diri dan kemauan memahami orang lain. Pertanyaan berikutnya menunjukkan adanya keinginan dan ambisi untuk meraih sesuatu, meski bukan materi.

Seseorang tidak perlu takut untuk beralih karier dengan cara berpindah tempat kerja jika kesempatan untuk berkembang lebih baik memang ada. Apalagi, jika masih dalam usia produktif dan belum mapan pada satu tempat. ”Usia di bawah 35 tahun memang masa mencari identitas diri,” tutur Mira Tripuspita. Karena itu, seseorang tak perlu merasa ragu ketika ada kesempatan dan tantangan baru dengan harapan bisa mendapatkan yang lebih baik. (source :tempo)


TAGS Add new tag Mengatasi Kegamangan Ketika Berpindah Tempat Kerja


-

Author

Follow Me