Are You Globally Correct

10 Jul 2009

Siapa yang akan menolak jika ditawari bekerja dengan orang asing? Selain menambah pengetahuan dan wawasan, kemampuan bercas-cis-cus dalam bahasa asing makin terasah. Tapi benarkah semudah itu?

Bekerja di lingkungan asing ternyata tak semudah yang dikira. Menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja berbeda, mobilitas serba cepat, dan perbedaan cara kerja adalah kendala yang sering ditemui. Belum lagi urusan bahasa. Peluang karir cemerlang sebanding dengan perjuangan yang harus dijalani. Simak 6 internationally correct protocoles yang sebaiknya anda kuasai agar survive dilingkungan kerja internasional.

1. Beda itu indah
Saat berbicara beda budaya, sebenarnya tak ada yang salah atau benar, yang ada hanyalah perbedaan. Jadi coba selami budaya rekan kerja asing anda. Seorang eksekutif yang punya kesadaran budaya yang tinggi akan lebih diterima dunia internasional dengan kedua tangan terbuka. Kesadaran budaya sudah bukan barang baru lagi. Saat berinteraksi dengan pihak asing, kita harus sadar bahwa semua ini hanyalah masalah budaya.

2. Kuasai bahasanya
Tak bisa disangkal, penguasaan bahasa asing menjadi elemen paling vital dalam komunikasi verbal. Saat anda mendarat disebuah perusahaan asing, tak ada jalan lain kecuali harus berani bicara bahasa asing. Minimal, bahasa Inggris yang sudah diakui sebagai bahasa internasional harus lancar mengalir. Buang prasangka buruk atasan asing yang tak mau belajar bahasa Indonesia, sedang kita harus susah payah belajar bahasanya. percayalah, akan banyak credit point yang bisa diraih dari kemampuan berbahasa asing.

3. Optimalkan diri

Saat bekerja dengan orang asing, bukan tak mungkin perasaan minder atau tak percaya diri melintas di hati. Anggapan umum kalau orang asing biasanya lebih tahu segala hal makin membuat perasaan minder ini menumpuk. Anda jadi under estimate diri sendiri. Padahal jika kita mau mengeksplorasi kemampuan pribadi lebih dalam, bukan tak mungkin kita lebih unggul dari orang asing. Jadi, manfaatkan kemampuan diri sebaik mungkin.

4. Bersikap terbuka
Umumnya orang asing selalu bersikap terbuka dan menyukai keterbukaan. Bersikap terbuka tidak harus meninggalkan rasa hormat kepada atasan. Asal jangan sampai hormat berlebihan membuat anda menjadi yes man yang tak berani mengeluarkan pendapat. Mungkin karena terlalu sibuk, atasan tak punya waktu untuk memperhatikan anda. Karena itu, bersikap terbuka akan berguna. Jika ada briefing yang kurang dimengerti karena kendala bahasa, jangan sampai malu untuk bertanya lagi. Tunjukkan juga antusiasme dan perhatian terhadap pekerjaan meski bahasan menjadi kendala. Sikap positif ini membuat anda lebih menonjol dan atasan pun tak segan memahami masalah yang terjadi.

5. Mau terus belajar

Selagi masih ada kesempatan, mengapa tak gunakan sebaik-baiknya. Peras keuntungan sebesar-besarnya dari atasan asing anda. Tak selamanya “memeras” itu punya konotasi buruk. “Networking adalah satu manfaat yang bisa didapatkan.

6. Jangan sampai lunturkan nasionalisme

Menurut opini umum, terlalu banyak terlibat dengan orang asing membuat nasionalisme luntur. Dianggap menyerap budaya asing mentah-mentah, atau melupakan bahasa Indonesia karena kelewat sering bicara bahasa asing. Nyatanya dugaan ini tak sepenuhnya benar. Karena diantara mereka justru banyak yang tambah tebal nasionalismenya. Yang penting adalah, harus tahu dan paham mana budaya asing yang harus diserap dan mana budaya asing yang harus ditinggalkan.


TAGS Are You Globally Correct


-

Author

Follow Me