Khalifah umar

1 Jul 2009

Al QUDS DAN PERJANJIAN UMAR BIN KHATHAB
2006-08-25 11:11:09
kispa.org - Perjanjian Umar bin Khathab dengan penduduk Iliya (nama lain dari Yerusalem), tahun 15H / 636M, telah memberikan jawaban yang jelas dan tegas mengenai toleransi yang telah dilaksanakan oleh umat Islam kepada orang Kristen dan merupakan contoh bagi masyarakat dunia.
Fakta sejarah ini tidak dapat dipungkiri oleh siapapun juga, kecuali mereka yang hasad, yang tertutup mata hatinya dan tidak mau berpihak kepada kebenaran yang hakiki.
Ketika pasukan Islam menguasai Yerusalem yang di dalamnya ada Baitul Maqdis, dan gereja Al Qiyamah, maka semuanya itu dijaga dan dilindungi, bahkan pasukan Romawi Byzantium yang telah menyerah dan orang Kristen lainnya diperlakukan dengan baik sesuai dengan syariat Islam.
Tokoh agama Kristen Yerusalem, Patriarch Shafarniyus, memohon kehadiran khalifah agung yang adil dan bijaksana, Umar bin Khathab, Amir al Muminin agar datang langsung ke Palestina untuk melakukan penandatanganan perjanjian damai di daerah Jabiyah. Perjanjian damai itu sangat bersejarah bagi penduduk Yerusalem dan peradaban umat manusia. Kemudian diadakan penyerahan secara resmi kunci kota suci Al Quds dari tokoh agama Kristen Yerusalem, Patriarch Shafarniyus kepada kkhalifah Islam, Umar Amir al Muminin.
Untuk mengetahui lebih jelas isi perjanjian damai itu, marilah kita lihat teks perjanjian tersebut di bawah ini:
Bismillahirrahmanirrahim.
Inilah jaminan keamanan yang diberikan oleh hamba Allah, Umar Amir al Muminin, terhadap penduduk Iliya:
Aku memberikan jaminan keamanan bagi jiwa raga dan harta benda mereka. Untuk gereja-gereja serta tiang-tiang salib mereka. Yang sakit maupun yang sehat, serta seluruh tradisi kepercayaan mereka.
Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki atau dihancurkan, tidak akan dikurangi ataupun dirubah. Tidak akan dirampas salib maupun harta benda mereka, walaupun sedikit. Mareka tidak akan dimusuhi kerena keyakinan agamanya, dan tidak akan diganggu atau diancam seorangpun dari mereka. Dan tidak diizinkan bangsa Yahudi untuk tinggal bersama mereka di Iliya, meskipun hanya satu orang.
Terhadap penduduk Iliya, mereka harus membayar jizyah (pajak), sebagaimana pernah diberikan oleh penduduk kota-kota yang lain. Mereka juga harus mengusir bangsa Romawi dan kaun Lushut. Siapa diantara mereka yang keluar, dijamin aman nyawa serta hartanya, hingga mencapai tempat aman mereka. Dan siapa yang tetap tinggal diantara mereka, diapun dijamin aman. Hanya saja ia dikenakan jizyah (pajak), sebagaimana yang diwajibkan terhadap penduduk Iliya.
Siapapun, diantara penduduk Iliya, bebas untuk pergi dengan jiwa dan hartanya ke pihak bangsa Romawi. Dia boleh mengosongkan rumah peribadatannya, dan membawa salib mereka. Mereka dijamin aman, atas jiwa raga, tempat ibadah, dan salib-salib mereka, sampai mereka tiba di tempat amannya.
Siapa yang sudah ada di dalam negeri, dari penduduk asli, sebelum terbunuhnya fulan: yang mau boleh tinggal, dan harus membayar jizyah (pajak) seperti yang dikenakan atas penduduk Iliya. Dan kalau mau, dia boleh pergi bersama Romawi. Atau boleh juga dia kembali kepada keluarganya. Pada keadaan ini, tidak dipungut apapun dari mereka, sampai bias dipanen hasil jerih payah mereka.
Apa yang tertuasng dalam surat perjanjian ini dilindungi oleh janji Allah, jaminan Rasul Nya, jaminan para khalifah, serta jaminan kaum muminin, jika mereka memberikan jizyah (pajak) yang dikenakan atas mereka.
Traktat perjanjian ini disaksikan oleh Khalid bin Walid, Amru bin Ash, Abdurrahman bin Auf, dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Dan dituliskan pada tahun 15 Hijriyah.
Dari perjanjian yang telah dibuat Umar bin Khathab dengan penduduk Yerusalem, ada yang menarik dan perlu diperhatikan dengan seksama, yaitu kalimat yang berbunyi: Dan tidak diizinkan bangsa Yahudi untuk tinggal bersama mereka di Iliya (Yerusalem), meskipun hanya satu orang.
Dari kalimat tersebut di atas, jelas ada kesepakatan kaum muslimin dan orang-orang Kristen untuk tidak mengizinkan orang-orang Yahudi menetap/tinggal di Yerusalem.
Hal ini disebabkan karena prilaku orang-orang Yahudi yang suka merusak, membuat makar, pengkhianat dan suka mengadu domba umat seperti yang pernah mereka lakukan kepada kabilah Aus dan kabilah Khzaraj, Muhajirin dan Anshar. Prilaku ini sangat barbahaya dalam komunitas masyarakat yang ingin perdamaian dan ketentraman.
Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka bersaha (menimbulkan) kerusakan di bumi. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS: Al Maidah/5 : 64)
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS: Al Maidah/5 : 82).
H. Ferry Nur S.Si / Sekjen KISPA.


TAGS Khalifah umar


-

Author

Follow Me